Semesta Fallout sering dibaca sebagai satir Amerika: patriotisme yang kelewat percaya diri, iklan yang tersenyum di tengah ancaman nuklir, korporasi yang menjual masa depan, dan pemerintah yang terus mengulang bahwa semuanya baik-baik saja. Pembacaan itu masuk akal, tetapi lapisan ekonominya jauh lebih menarik. Kalau Fallout dibedah lewat materialisme dialektis, kehancuran 2077 terlihat sebagai hasil kontradiksi yang sudah lama tumbuh di dalam masyarakat pra-perang. Bom nuklir datang di ujung proses. Masalahnya sudah ada jauh sebelum sirene berbunyi.
Materialisme dialektis berangkat dari gagasan sederhana: masyarakat bergerak melalui kontradiksi nyata yang lahir dari kehidupan material. Cara manusia memproduksi barang, siapa yang memiliki alat produksi, bagaimana kekayaan dibagikan, siapa yang bekerja dan siapa yang menguasai hasil kerja, semua itu membentuk politik, hukum, budaya, bahkan cara masyarakat memahami dirinya sendiri. Ideologi tidak jatuh dari langit. Ia tumbuh dari hubungan sosial yang konkret.
Fallout memberi kita dunia yang sangat cocok untuk pembacaan ini. Amerika pra-perang memiliki teknologi luar biasa. Energi nuklir ada di rumah, mobil, robot, industri, dan militer. RobCo menciptakan otomatisasi dalam skala luas. General Atomics menjual robot untuk pekerjaan domestik dan industri. West Tek mengembangkan teknologi militer. Vault-Tec membangun jaringan Vault yang diklaim sebagai perlindungan dari perang nuklir. Kekuatan produktif berkembang sangat jauh. Namun masyarakat justru bergerak menuju kelangkaan, pengangguran, konflik sumber daya, dan perang.
Di situlah kontradiksi pertama bekerja.
Teknologi seharusnya mampu mengurangi kerja manusia dan memperluas kesejahteraan. Hubungan produksi kapitalis membuat teknologi bergerak mengikuti kepemilikan dan keuntungan. Otomatisasi menghasilkan produksi lebih efisien, sementara pekerja menghadapi pemecatan, hilangnya pendapatan, dan posisi tawar yang semakin lemah. Robot bekerja untuk pemiliknya. Produktivitas yang lebih tinggi tidak dengan sendirinya membuat hasil produksi terbagi secara lebih adil.
Fallout memperlihatkan pola ini berulang kali. Perusahaan memakai robot untuk menggantikan pekerja, sementara protes buruh menghadapi represi. Militer dikerahkan ketika konflik sosial membesar. Negara bergerak menjaga keteraturan yang dibutuhkan sistem produksi yang sudah ada. Kepentingan korporasi dan kepentingan negara lama-kelamaan sulit dipisahkan.
Produktivitas naik. Keamanan sosial runtuh. Teknologi maju. Hidup makin tidak aman.
Kontradiksinya telanjang.
Kelangkaan sumber daya memperkeras semuanya. Minyak dan berbagai sumber daya strategis semakin sulit diperoleh. Eropa terjerumus ke dalam Resource Wars. Timur Tengah berubah menjadi medan perebutan energi. Amerika Serikat menginvasi dan kemudian menganeksasi Kanada karena kebutuhan strategis perang melawan Tiongkok. Sino-American War berkembang menjadi perang total.
Materialisme dialektis mengarahkan perhatian pada kebutuhan material yang menggerakkan perang itu. Negara-negara industri membutuhkan sumber daya untuk mempertahankan produksi, konsumsi, dan mesin militernya. Ketika pasokan menipis, persaingan ekonomi bergerak ke wilayah geopolitik. Modal membutuhkan bahan baku. Negara membuka jalannya. Militer mengamankan akses.
Imperialisme di Fallout punya dasar yang sangat material.
Amerika pra-perang terus berbicara tentang kebebasan, demokrasi, dan ancaman komunisme. Pada saat bersamaan Kanada diduduki, demonstrasi ditekan, militerisasi diperluas, dan perusahaan memperoleh ruang besar dalam mengatur kehidupan masyarakat. Ideologi di sini bekerja seperti yang dijelaskan tradisi Marxis melalui konsep superstruktur. Institusi, propaganda, budaya, hukum, dan bahasa politik membantu mempertahankan hubungan material yang sudah ada.
Freedom terus dijual saat kebebasan konkret menyusut.
Poster patriotik, Vault Boy, iklan Nuka-Cola, propaganda antikomunis, dan gambaran keluarga Amerika yang bahagia punya fungsi dalam susunan itu. Warga diarahkan melihat konsumsi sebagai kehidupan normal, perang sebagai pertahanan kebebasan, korporasi sebagai pembawa kemajuan, dan musuh asing sebagai sumber krisis. Struktur ekonomi yang menghasilkan krisis perlahan hilang dari pandangan masyarakat.
Beri kelangkaan sebuah musuh. Beri pengangguran penjelasan patriotik. Beri perang sebuah slogan. Sistem mendapat sedikit waktu tambahan.
Vault-Tec kemudian membawa logika ini ke bentuk yang paling kasar. Vault dijual kepada publik sebagai perlindungan. Banyak Vault ternyata digunakan sebagai eksperimen sosial atas penghuninya: isolasi, manipulasi psikologis, kondisi hidup yang sengaja dibuat menyimpang, sampai berbagai bentuk pengujian manusia. Kehidupan manusia diperlakukan sebagai data.
Kapitalisme Fallout mencapai bentuk yang hampir vulgar di sini. Bahkan kiamat masuk ke dalam proyek pengelolaan. Ketakutan memiliki pasar. Perlindungan memiliki harga. Tubuh manusia berubah menjadi objek eksperimen. Masa depan sudah dibagi melalui kontrak, fasilitas, protokol, dan kepentingan organisasi sebelum dunia lama benar-benar berakhir.
Keberadaan proyek Vault sudah menjelaskan banyak hal. Masyarakat yang menghadapi kemungkinan kepunahan mengorganisasi keselamatan melalui akses terbatas, kepemilikan, birokrasi korporat, dan eksperimen rahasia. Logika kelas ikut masuk sampai ke bunker.
Lalu ada Enclave. Kelompok ini membuat kontinuitas antara dunia pra-perang dan dunia pasca-perang semakin jelas. Sebagian elit politik, militer, dan ekonomi Amerika sudah menyiapkan kelangsungan kekuasaan mereka sendiri sebelum bom jatuh. Ketika jutaan orang mati, sebagian dari kelas penguasa memiliki fasilitas, teknologi, jaringan, dan institusi yang memungkinkan mereka bertahan. Bahkan akhir dunia memiliki distribusi keselamatan yang timpang.
Kelas menentukan siapa yang punya bunker. Kelas menentukan siapa yang punya informasi. Kelas ikut menentukan siapa yang memperoleh kesempatan hidup.
Lalu bom jatuh pada 23 Oktober 2077.
Kapitalisme lama hancur bersama kota-kotanya, namun hubungan sosial yang serupa muncul kembali karena kondisi material baru tetap menghasilkan kepemilikan, perdagangan, akumulasi, dan kelas. Dunia pasca-perang tidak kembali ke titik nol. Manusia membangun masyarakat dari sisa teknologi, senjata, tanah, air, jalur perdagangan, dan institusi yang selamat. Siapa menguasai semua itu memperoleh kekuasaan.
Lihat bottle caps. Tutup botol berubah menjadi uang di banyak wilayah karena diterima sebagai alat tukar dan terhubung dengan perdagangan. Pada fase awal di Pantai Barat, nilainya memperoleh kepercayaan melalui hubungan dengan pedagang air. Ini contoh kecil tetapi tajam. Uang dapat lahir dari pertukaran dan kebutuhan atas ukuran nilai yang diterima bersama.
Pasar kembali. Pedagang kembali. Akumulasi kembali.
Kemudian lahir New California Republic. NCR membangun republik, hukum, pajak, tentara, birokrasi, wilayah, dan pasar yang jauh lebih stabil dibanding banyak komunitas wasteland. Ia terlihat sebagai proyek pemulihan peradaban. Perkembangannya juga menghasilkan diferensiasi kelas. Brahmin barons memperoleh kekayaan dan pengaruh. Perusahaan dagang besar seperti Crimson Caravan memperluas jaringan. Negara membutuhkan pajak dan wilayah. Tentara menjaga rute serta ekspansi.
NCR memperlihatkan bagaimana kapitalisme dapat dibangun ulang setelah kapitalisme lama ikut membawa dunia menuju kehancuran. Bentuknya berubah. Basis materialnya berubah. Pola kepemilikan dan akumulasi kembali menciptakan kepentingan kelas.
Ekspansi NCR ke Mojave lalu menghasilkan kontradiksi baru. Republik membutuhkan Hoover Dam, listrik, jalur perdagangan, dan wilayah strategis. Bahasa politiknya berbicara tentang stabilitas dan peradaban. Kebutuhan materialnya berbicara tentang energi, pajak, serta ekspansi. Warga Mojave merasakan birokrasi dan pungutan yang datang bersama bendera republik.
Fallout: New Vegas memberi bentuk yang lebih terang melalui Robert House. House adalah kapitalis yang berhasil mengubah kepemilikan pribadi atas teknologi menjadi kedaulatan politik. Ia memiliki jaringan Securitron, Lucky 38, sistem kontrol kota, dan rencana ekonomi untuk New Vegas. Kekuasaan ekonominya langsung berfungsi sebagai kekuasaan negara.
Tak perlu parlemen. Tak perlu pemilu. Properti sudah membawa pasukan.
House melihat dirinya rasional, modern, dan jauh lebih kompeten dibanding demokrasi NCR atau barbarisme Legion. Ia menawarkan pembangunan teknologi, perdagangan, dan masa depan. Struktur pemerintahannya sederhana: satu pemilik memegang alat produksi, alat kekerasan, dan arah pembangunan. Kapitalisme bergerak sampai titik ketika CEO dan penguasa politik praktis menyatu dalam satu orang.
Caesar’s Legion menawarkan bentuk politik yang sangat berbeda. Basis materialnya tetap dibangun dari eksploitasi tenaga kerja, perbudakan, penaklukan, serta penguasaan surplus oleh lapisan penguasa. Bentuk politiknya berubah drastis. Hubungan dominasi tetap hidup. Dialektika memang tidak menjamin setiap negasi akan menghasilkan pembebasan. Sebuah tatanan dapat menghancurkan bentuk lama sambil membawa struktur penindasan ke susunan baru.
Hal serupa muncul pada Brotherhood of Steel. Mereka melihat penyalahgunaan teknologi sebagai penyebab kehancuran dunia, lalu membangun monopoli teknologi melalui organisasi militer tertutup. Pengetahuan dikontrol. Senjata dikontrol. Akses dikontrol. Mereka memahami bahwa teknologi mempunyai kekuatan material dan menjawabnya dengan kepemilikan eksklusif oleh sebuah kasta.
Fallout terus kembali pada persoalan yang sama: siapa menguasai apa.
Siapa punya air. Siapa punya listrik. Siapa punya senjata. Siapa punya robot. Siapa menguasai jalur dagang. Siapa menguasai tanah. Siapa dapat memerintah karena ia menguasai semua itu.
Di titik ini kritik Fallout atas kapitalisme terasa paling kuat. Kapitalisme di semesta ini bekerja sebagai hubungan sosial yang membuat akumulasi terus rasional bagi mereka yang memiliki kekuatan untuk melakukannya. Vault-Tec, Mr. House, RobCo, atau satu korporasi tertentu hanyalah pelaku yang bergerak di dalam struktur tersebut. Pergantian pemilik belum tentu mengubah cara produksi dan distribusi kekayaan.
Kiamat bahkan gagal menghapus hubungan kelas.
Materialisme dialektis akhirnya membawa pembacaan Fallout jauh melewati kritik konsumerisme. Konsumerisme berada di permukaan. Di bawahnya hidup monopoli, imperialisme, eksploitasi kerja, perebutan sumber daya, militerisasi, kepemilikan teknologi, dan negara yang terikat dengan proses akumulasi. Dunia hancur ketika kontradiksi itu mencapai bentuk yang sudah sulit ditahan oleh tatanan lama.
Manusia kemudian membangun dunia dari reruntuhannya dan membawa kontradiksi serupa ke bentuk baru.
Itulah lelucon paling gelap Fallout. Orang-orang pra-perang yakin teknologi akan menyelamatkan mereka. Korporasi yakin pasar dapat mengatur masa depan. Negara yakin perang dapat mengamankan sumber daya. Setelah semuanya runtuh, masyarakat pasca-perang kembali membangun pasar, negara, kelas, monopoli, dan ekspansi.
War never changes, kata Fallout.
Lewat materialisme dialektis, kalimat itu memperoleh arti yang lebih luas. Perang terus kembali selama kondisi material yang memproduksinya terus direproduksi. Perebutan sumber daya menghasilkan ekspansi. Kepemilikan menghasilkan kelas. Kelas menghasilkan konflik kepentingan. Kekuasaan kemudian menjaga kepemilikan.
Bom mengubah dunia.
Kontradiksinya selamat.

