Seekor kucing hitam dengan punggung melengkung, bulu berdiri, ekor mengembang, gigi terbuka dan cakar siap keluar. Gambarnya sederhana, hampir seperti coretan yang dapat dibuat pekerja di tembok pabrik, selebaran, atau sudut pamflet. Namun selama lebih dari satu abad, kucing itu terus muncul bersama sejarah gerakan buruh radikal Amerika. Namanya Sabo-Tabby. Kadang disebut Sab Cat, Sabo-Cat, atau Sabo-Kitty. Ia diasosiasikan dengan Industrial Workers of the World (IWW), serikat revolusioner yang sejak awal abad ke-20 berbicara terang mengenai konflik antara kelas pekerja dan kelas pemilik. Kucing ini lahir dari dunia kerja, dan justru dari situ kita dapat memahami mengapa seekor kucing bisa membawa begitu banyak muatan politik.
Arsip IWW menyebut Sabo-Tabby kemungkinan besar berasal dari Ralph Chaplin, organisator IWW yang juga menulis “Solidarity Forever”. Chaplin menghasilkan banyak gambar agitasi IWW pada masa ketika poster, stiker, dan kartun berfungsi sebagai agitator diam di tempat kerja. Kucing itu awalnya berhubungan dengan direct action di titik produksi, khususnya gagasan sabotage. Chaplin sendiri kemudian menjelaskan bahwa Sab Cat miliknya dimaksudkan untuk melambangkan slowdown, yaitu pekerja sengaja mengurangi kecepatan kerja sebagai bentuk “mogok ketika tetap berada di tempat kerja”. Simbolnya kasar, langsung, mudah digambar ulang. Cocok dengan organisasi yang ingin menjangkau pekerja di pabrik, tambang, pelabuhan, rel kereta dan berbagai tempat kerja lain.
Kata sabotage di sini perlu dipisahkan dari bayangan bom, mesin yang dihancurkan atau pabrik yang dibakar. Tradisi IWW memakai istilah itu dalam pengertian yang jauh lebih luas. Elizabeth Gurley Flynn, salah satu organisator buruh terkenal pada zamannya, menerbitkan pamflet pada 1916 berjudul Sabotage: The Conscious Withdrawal of the Workers’ Industrial Efficiency. Bentuknya dapat berupa memperlambat pekerjaan atau menjalankan aturan perusahaan dengan begitu kaku hingga produksi ikut melambat. IWW kemudian menjauh dari advokasi sabotage, dan organisasi itu sekarang juga tidak menetapkannya sebagai kebijakan resmi. Namun pengertian lama itu membawa kita langsung ke persoalan dasar kapitalisme: siapa sebenarnya yang membuat produksi berjalan?
Mesinnya dimiliki kapitalis. Gedungnya dimiliki kapitalis. Bahan bakunya dibeli kapitalis. Produk akhirnya tercatat sebagai milik perusahaan. Seluruh rangkaian itu tetap memerlukan tenaga manusia yang datang setiap pagi, menjalankan mesin, mengangkut barang, mencatat pesanan, memperbaiki kerusakan, membersihkan lantai, mengoperasikan gudang dan mengatur distribusi. Kapital memiliki pabrik, tetapi pekerja yang membuat pabrik itu hidup. Dari hubungan sederhana ini materialisme historis mulai bekerja.
Kapital bukan tumpukan uang yang kebetulan sangat besar. Kapital adalah hubungan sosial dimana satu kelas memiliki sarana produksi dan kelas lain harus menjual tenaga kerjanya agar dapat hidup. Pabrik terlihat sebagai milik pengusaha karena sertifikat kepemilikannya memang mengatakan demikian. Proses produksi memperlihatkan kenyataan lain: kekayaan baru hanya dapat diproduksi karena ada pekerja yang bekerja. Marx membedakan tenaga kerja dari hasil kerja. Seorang pekerja menjual kemampuan bekerjanya untuk jangka waktu tertentu, lalu pemilik menggunakan tenaga itu untuk menghasilkan nilai yang lebih besar dari upah yang dibayarkan. Selisih inilah yang berada di pusat produksi nilai lebih. Orang bekerja, nilai diproduksi, sebagian diberikan kembali sebagai upah, dan sisanya terakumulasi sebagai kapital.
Hubungan ini menciptakan konflik yang sangat konkret mengenai waktu. Bagi pekerja, satu jam kerja adalah satu jam hidup yang diserahkan kepada orang lain. Bagi kapital, satu jam kerja adalah biaya yang harus menghasilkan output sebanyak mungkin. Pengusaha berkepentingan meningkatkan produktivitas, mengurangi waktu kosong dan mendapatkan hasil lebih besar dari setiap jam yang dibelinya. Pekerja berkepentingan memperoleh upah lebih tinggi, jam kerja lebih pendek, ritme kerja yang manusiawi dan kendali lebih besar atas pekerjaannya. Dua kepentingan itu bertemu setiap hari di lantai produksi. Konflik kelas kadang tidak terlihat seperti revolusi. Kadang bentuknya hanyalah pertengkaran tentang lima menit istirahat.
IWW menyatakan konflik itu tanpa bahasa yang terlalu halus. Pembukaan konstitusinya menyebut bahwa kelas pekerja dan kelas pemberi kerja memiliki kepentingan yang saling bertentangan. Organisasi yang berdiri pada 1905 itu mendorong pekerja dari berbagai pekerjaan dalam industri yang sama untuk bergabung dalam satu organisasi industrial, alih-alih dipisahkan berdasarkan keahlian masing-masing. Tujuannya adalah mengubah kekuatan pekerja yang tersebar menjadi kekuatan kolektif. Dari sini Sabo-Tabby memperoleh konteks politiknya. Kucing itu mewakili kesadaran bahwa kekuasaan pekerja berada pada kemampuannya mengganggu kelancaran produksi.
Kapital terlihat sangat kuat selama produksi berjalan normal. Barang keluar dari pabrik, kereta mengangkut muatan, pelabuhan bekerja, restoran melayani pelanggan, gudang mengirim paket dan laporan keuangan terus bergerak. Semua tampak seperti hasil kecakapan perusahaan. Namun ketika pekerja berhenti, struktur sebenarnya mulai terlihat. Mesin dapat bernilai jutaan dolar, tetapi tanpa orang yang mengoperasikannya ia hanya mesin yang diam. Gudang sebesar apa pun tetap membutuhkan orang untuk mengatur barang. Platform digital tetap membutuhkan pengemudi, moderator, teknisi dan pekerja lain yang membuat sistem berfungsi.
Mogok kerja bekerja melalui logika itu. Kapital membutuhkan tenaga kerja untuk mereproduksi dirinya. Ketika pekerja menarik tenaga tersebut bersama-sama, hubungan kekuasaan yang biasanya tersembunyi muncul ke permukaan. Sabo-Tabby membawa gagasan itu ke bentuk lain melalui slowdown: pekerja tetap berada di tempat kerja, tetapi kendali atas tempo kerja mulai direbut dari manajemen. Kapital mengatakan cepat, pekerja bergerak lebih lambat. Kapital menghitung setiap menit, pekerja mengingatkan bahwa menit itu berasal dari hidup mereka sendiri.
Masalah waktu memang berada sangat dekat dengan jantung kapitalisme. Kapitalisme membutuhkan disiplin waktu. Jam masuk, target produksi, jumlah unit per jam, waktu istirahat, tingkat produktivitas dan berbagai ukuran kinerja mengubah waktu manusia menjadi sesuatu yang dapat dihitung, dibeli dan diawasi. Pekerja masuk pukul delapan, pulang pukul lima, dan di antara dua titik itu sebagian waktunya berada di bawah komando orang lain. Hubungan kelas terasa sangat nyata ketika dilihat dari jam dinding.
Itulah alasan IWW menempatkan direct action begitu dekat dengan tempat produksi. Kekuasaan kelas pekerja sudah muncul dari posisinya di dalam produksi. Masalahnya, kekuatan itu tersebar pada jutaan orang yang bekerja sendiri-sendiri. Seorang pekerja yang menolak perintah mudah diganti. Seratus pekerja mulai menyulitkan. Ribuan pekerja yang bergerak bersama dapat menghentikan seluruh operasi. Kuantitas berubah menjadi kualitas. Prinsip dialektika terasa hampir harfiah di sini.
Individu yang lemah memperoleh posisi berbeda ketika membentuk kolektif. Seorang buruh mempunyai hubungan dengan majikan sebagai penjual tenaga kerja. Ribuan buruh yang terorganisasi dapat mengubah hubungan itu menjadi pertarungan mengenai siapa yang sebenarnya mengendalikan produksi. Karena itu IWW memakai gagasan One Big Union. Fragmentasi pekerja menguntungkan pemilik, sementara solidaritas mengubah keseimbangan kekuatan. Kapital mengetahui ini dengan sangat baik. Maka pekerja dibedakan berdasarkan kontrak, jabatan, sektor, status tetap atau sementara, pekerja inti atau pekerja alih daya. Semakin mudah pekerja melihat dirinya sebagai individu yang terpisah, semakin sulit mereka mengenali kepentingan bersama.
Kucing hitam lalu cocok sebagai gambar politik, meski kita perlu hati-hati agar tidak mengarang maksud sejarah yang tidak pernah dinyatakan penciptanya. Arsip IWW menjelaskan bahwa pilihan kucing kemungkinan berkaitan dengan permainan kata Sabo-Tabby dan tradisi yang menghubungkan kucing hitam dengan nasib buruk atau sesuatu yang mengancam. Ralph Chaplin sendiri menekankan hubungan gambarnya dengan slowdown. Makna kucing sebagai maskot militansi pekerja kemudian berkembang lebih luas. Simbol memang dapat memperoleh kehidupan sosial yang melampaui maksud awal pembuatnya.
Ada sesuatu yang menarik dari pilihan kucing itu. Kucing hidup sangat dekat dengan manusia tetapi tetap mempertahankan otonominya. Ia dapat tinggal di rumah, makan dari mangkuk yang diberikan manusia dan tidur di sofa, tetapi kepatuhan bukan ciri yang langsung terbayang ketika kita melihat kucing. Kita dapat memanggil namanya berkali-kali dan ia bisa saja tetap duduk di tempat. Tentu Sabo-Tabby bukan teori zoologi tentang perjuangan kelas. Namun asosiasinya terasa pas untuk organisasi yang berbicara tentang pekerja yang menolak disiplin kapital.
Kapital membutuhkan pekerja yang disiplin. Datang tepat waktu, bergerak sesuai target, mengikuti supervisor, mengikuti algoritma, memenuhi key performance indicator, lalu menganggap kebutuhan perusahaan sebagai kebutuhan dirinya sendiri. Kucing hitam IWW memberi citra yang berbeda: pekerja yang sadar bahwa kepatuhannya mempunyai nilai karena kapital membutuhkan kepatuhan itu. Kesadaran kelas dapat tumbuh dari pertanyaan sederhana. Mengapa saya harus bekerja secepat ini? Siapa yang menerima hasil kenaikan produktivitas? Mengapa target tahun ini lebih tinggi dari tahun lalu? Kalau pekerjaan lima orang sekarang dikerjakan tiga orang, kemana hasil penghematan dua pekerja itu pergi?
Pertanyaan tentang kerja akhirnya membawa kita pada pertanyaan kepemilikan. Teknologi membuat persoalan ini semakin tajam. Kapital mempunyai insentif terus-menerus untuk meningkatkan produktivitas melalui mesin industri, komputer, perangkat lunak, kecerdasan buatan, sistem pemantauan pekerja dan algoritma logistik. Semua itu memungkinkan satu pekerja menghasilkan jauh lebih banyak dibanding pekerja beberapa dekade sebelumnya. Dari sudut kemampuan teknis, kenaikan produktivitas membuka kemungkinan jam kerja yang jauh lebih pendek. Namun hubungan kepemilikan menentukan siapa yang menerima hasil kemajuan itu.
Produktivitas dapat naik bersamaan dengan kenaikan target kerja. Teknologi dapat mengurangi jumlah pekerja yang dibutuhkan sementara pekerja yang tersisa tetap menjalani jam panjang. Otomatisasi dapat mengurangi pekerjaan berat, tetapi ia juga dapat dipakai untuk mengurangi biaya tenaga kerja dan memperbesar laba. Mesin tidak memilih salah satu arah itu. Kepemilikan dan hubungan kelas yang menentukan penggunaannya.
Di sinilah Sabo-Tabby masih berbicara kepada kapitalisme abad ke-21 meskipun gambarnya berasal dari dunia buruh lebih dari satu abad lalu. Gudang sekarang memakai pemindai digital. Pengemudi diarahkan algoritma. Pekerja kantor dipantau melalui perangkat lunak. Restoran cepat saji menghitung waktu pelayanan sampai hitungan detik. Dulu mandor membawa jam, sekarang algoritma membawa dashboard. Bentuk pengawasan berubah, tetapi konflik mengenai waktu belum hilang. Perintah dasarnya masih mudah dikenali: lebih cepat, lebih banyak, lebih murah.
Kapital berusaha mempersempit ruang dimana pekerja dapat menentukan ritmenya sendiri karena ruang itu membatasi kemampuan perusahaan mengambil nilai dari waktu kerja. Karena itu perlawanan buruh acap berpusat pada persoalan yang terlihat sangat biasa: waktu istirahat, target, jadwal, kecepatan lini produksi, jumlah staf dalam satu giliran, hak berbicara dengan rekan kerja, sampai hak pergi ke toilet. Politik kelas hidup di sana. Ia hidup di jadwal kerja hari Senin, di lima belas menit istirahat, dan pada pertanyaan siapa yang berhak menentukan seberapa cepat tubuh manusia harus bergerak.
IWW memahami bahwa pekerja mempunyai kekuatan yang muncul langsung dari kedudukannya sebagai pekerja: solidaritas dan kemampuan kolektif untuk menolak perintah produksi. Karena itu slogan, lagu, poster dan gambar mempunyai fungsi organisatoris. “Solidarity Forever” membuat teori kelas dapat dinyanyikan. Sabo-Tabby membuat gagasan direct action dapat digambar pada secarik kertas. Seekor kucing dengan bulu berdiri, punggung melengkung dan cakar keluar sudah cukup untuk menyampaikan suasana militansi tanpa membutuhkan penjelasan panjang.
Kapital mempunyai banyak wajah sekarang. Perusahaan teknologi, gudang raksasa, platform digital, restoran waralaba, bank, pabrik dan kantor bekerja dengan bentuk organisasi yang berbeda. Namun semuanya tetap bergantung pada tenaga manusia dalam derajat yang berbeda-beda. Pemilik memang memegang sertifikat perusahaan, rekening, mesin dan sistem manajemen. Ia dapat mempekerjakan manajer, konsultan, supervisor, bahkan algoritma untuk mengawasi pekerjaan. Tetapi ada sesuatu yang masih harus datang setiap pagi: pekerja.
Itulah kekuatan yang diingatkan oleh kucing hitam IWW. Sejarah Sabo-Tabby membawa kita kembali pada gagasan dasar bahwa produksi adalah proses sosial dan kapital hanya dapat bergerak selama manusia terus bekerja di bawah hubungan produksi yang menopangnya. Mogok, slowdown, solidaritas dan organisasi buruh memperoleh daya dari kenyataan material itu. Selama ada orang yang membeli waktu orang lain untuk menghasilkan keuntungan, pertanyaan lama mengenai siapa yang mengendalikan kerja akan tetap hidup. Sabo-Tabby memberi jawaban dari lantai produksi: yang mengerjakan selalu memiliki kemampuan untuk menghentikan pekerjaan.
Dari kemungkinan sederhana itulah kapital belajar takut pada kucing.

